Selamat Datang di Website ini dengan senang hati

Jumat, 12 Oktober 2012

Shahih Imam Muslim


MAKALAH
Kitab Shahih Muslim (pengenalan pengarang dan kitabnya)
disusun
OLEH:
Idris Siregar
Nim : 43.11.4.063
Haposan Harahap
Nim : 43.11.4.062
Ahmad Saiful Lubis
Nim : 43.11.4.058
JURUSAN: TAFSIR HADIS INTERNASIONAL
Semester III

FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN2012









KATA PENGANTAR
Puji syukur kami limpahkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Kitab Shahih Muslim (pengenalan pengarang dan kitabnya) ini. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, Nabi akhir zaman. Amien…..
Manusia sebagai makhluk sosial, tak lepas dari bantuan dan bimbingn orang lain. Maka dari itu kami selaku penyusun makalah Kitab Shahih Muslim (pengenalan pengarang dan kitabnya) ini, mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Dengan selesainya makalah ini kami berharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, khususnya bagi para pembaca.
Maka dari itu kami selaku penyusun hanya membatasi pembahasan materi dalam makalah ini hanya sebatas yang kami ketahui melalui sumber dan referensi yang kami dapat.
Sebagai manusia biasa kami sadar bahwa pembuatan makalah tentang Kitab Shahih Muslim (pengenalan pengarang dan kitabnya) ini masih jauh dari sempurna. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, dan kelemahan adalah milik kita sebagai makhluk. Maka dengan demikian demi terciptanya makalah yang lebih baik untuk kedepan, kami mohon sekiranya para pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua. Amien….


Medan, 11 oktober 2012

penyusun


DAFTAR ISI
Judul Makalah........................................................................................      1
Bab I
Kata Pengantar...................................................................................................................       2
Daftar Isi         ....................................................................................................................       3
Bab II Pembahasan
Kitab Shahih Muslim:
A.    Muslim..............................................................................................................       4
B.     Gurunya............................................................................................................       4
C.     Muridnya..........................................................................................................       4
D.    Karyanya...........................................................................................................       5
E.     Syarat-syarat yang dipergunakan Muslim.........................................................       7
F.      Perbandingan antara Shaih Bukhari dan Shahih Muslim..................................       7
G.    Jumlah Hadis dalam Shahih Muslim.................................................................       9
Bab III
Kesimpulan     ....................................................................................................................       10
Daftar Pustaka....................................................................................................................                11
                                                     
         




Kitab Shahih Muslim
A.    Muslim
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi al-naisaburi.
Ia lahir pada tahun 204 H. Sayangnya, sumber-sumber yang ada tidak memberi kita informasih mengenai leluhurnya, keluarganya, dan dan awal masa kanak-kanaknya. Adalah pasti bahwa ia sudah memepelajari Al Quran, sastra, dan tata bahasa sebelum mulai mengkaji hadis, karena begitulah pola umum priode itu. Yang jelas, ia mulai belajar hadis pada tahun 218 H. Ketika berusia sekitar  15 tahun.
Karena rihlah (perjalanan) untuk belajar hadis merupaka unsur penting, Imam Muslim mengunjungi hampir seluruh pusat pengetahuan berkali-kali. Perjalanan pertamanya, barangkali, adalah ke Mekah untuk berhaji ditahun 220 H. dalam perjalan ini ia belajar dari Qa’nabi dan lain-lain lalu kembali ke negri asalnaya dalm waktu singkat. Nampaknya rihlah-Nya yang sesungguhnya dimulai sekitar tahun 230 H. ia berangkat ke Irak, Hijaj, Siria, dan Mesir. Terakhir kali ke Baghdad adalah tahun 259 H. Imam Muslim meninggal dunia pada tanggal 25 rajab tahun 261 H DI Nashar Abad, salah satu perkampungan di Naisabur. 
B.     Gurunya
Karya-karya biografi menyebutkan banyak sekali nama-nama gurunya kita dapat menyebutkan beberapa saja, yakni Zuhair b. Harb, Manshur, ‘Abdu b. Humaid, Dzuhali, Bukhari, Ibn Ma’in, Ibn Abi Syaibah, dan sebagainya. Secara keseluruhan jumlah mereka ratusan.
C.    Muridnya
Jumlah muridnya sangat banyak. Ratusan orang membaca kitab-kitabnya kita dapat menyebutkan beberapa diantaranya, seperti Tirmiji, Ibn  Abi Hatim ar Razi, Ibn Huzaimah, dan sebagainya.[1]
D.    Karyanya
ia menyusun banyak buku seperti:
1.      Al  Asma’ wa al kuna
2.      Ifrad asy Syamiyin
3.      Al  aqran
4.      Al Intifa’ bi julud as Siba’
5.      Aulad ash Shahabah
6.      Auham al Muhadditsin
7.      At Tarikh
8.      At Tamyiz
9.      Al Jami’
10.  Hadis Umar b. Syu’aib
11.  Rijal ‘Urwah
12.  Sawalatuh Ahmad b. Hanbal
13.  Thabaqad
14.  Al ‘Ilal
15.  Al  Mukhadramin
16.  Al  Musnad al Kabir
17.  Masya’ikh at Tsauri
18.  Masya’ikh Syu’bah
19.  Masya’ikh Malik
20.  At Wahdan
21.  As Shahih al Musnad[2]
Dari sekian banyak jumlah karyanya, maka yang paling terkenal dan yang paling terpenting diantaranya adalah karyanya Al Shahih. Judul lengkap dari al Shahih ini adalah Al Musnad al Shahih al Muktashar min al Sunan bi naql al ‘Adl‘an al ‘Adl‘an Rasul Allah.[3] Kitab ini, berdasarkan penomoran yang dilakukan oleh Fu’ad ‘Abd al Baqi, memuat sejumlah 3033 Hadis. Penomoran tersebut tidak berdasarkan pada sistem sanad, namun berdasarkan pada topik atau subjek Hadis. Apabila penomorannya didasarkan kepada sanad, maka jumlah Hadisnya akan meningkat jauh lebih banyak, bahkan bisa mencapai dua kali lipat jumlah di atas.[4] Hadis-hadis tersebut adalah merupakan hasil penyaringan dari 300.000 Hadis yang berhasil dikumpulkan oleh Imam Muslim. Dia melakukan penyelesaian dan penyaringan Hadis-hadis tersebut selama 15 tahun.[5] Imam Muslim sebagaimana halnya Imam Bukhari, juga adalah seorang yang sangat ketat dalm menilai dan menyeleksi Hadis-Hadis yang diterimanya. Dia tidak begitu saja memasukkan Hadis-hadis yang diperolehnya dari para gurunya kedalam kitab Shahihn-Nya. Dalam hal ini Imam Muslim  mengatakan:
ما وضعت شيئا في كتابي هذا الا بحخة, و ما اسقطت منه شيئا الا بحخة وقال : ليس كل شيء عندي صحيح وضعته ههنا, انما وضعت ما اجمعوا عليه.[6]
Saya tidak meletakkan sesuatu ke dalam kitab (Shahih) ku ini kecuali dengan menggunakan Hujjah (dalil, argumentasi), dan aku tidak menggugurkan (membuang) sesuatupun dari kitab itu kecuali dengan hujjah. (selanjutnya) dia berkata, “tidaklah setiap (Hadis) yang Shahih menurut penilaianku aku masukkan kedalam (kitab shahih-ku), sesungguhnya baru aku masukkan sesuatu hadis (kedalamnya) apabila telah disepakati oleh para ulama Hadis atasnya.
Menurut laporan Ibrahim ibn Muhammad ibn Sufyan, Imam Muslim juga telah menyusun tiga kitab musnad, yaitu:
a.       Musnad yang beliau bacakan kepada masyarakat adalah shahih.
b.      Musnad yang memuat hadis-hadis, walaupun dari perawi yang lemah.
c.       Musnad yang memuat hadis-hadis, walaupun sebagian hadis itu berasal dari perawi yang lemah.
Dari sekian banyak karangan Imam Muslim, Shahih Muslimlah yang paling terkenal. Ada sejumlah kitab syarah yang mengomentari kitab hadis tersebut. Diantara sekian banyak kitab yang memberi syarah, yang paling populer adalah Kitab Imam Nawawi (w.676 H), yang diberi judul al-Manhaj fi Syarh Shahih Muslim ibn Al-Hajjaj.
Imam Muslim wafat pada hari Ahad bulan Rajab 261 H(875M), dan dikebumikan pada hari senin di Naisabur.
Muslim juga mengambil keuntungan dari Shahih Bukhari, kemudian menyusun karyanya sendiri dan beliau dipengaruhi oleh metodologi yang diterapkan bukhari.
Salah satu guru Muslim, Dhuhali yang mempunyai perbedaan teologis dengan Bukhari, ia melarang murid-muridnya untuk tidak menghadiri tutorial Bukhari. Siapa saja yang menghadirinya harus keluar dari majlisnya. Mendengar hal itu Muslim kemudian keluar dan mengembalikan buku-bukunya kepada Dhuhali.
E.     Syarat yang dipergunakan Muslim
Muslim tidak menegaskan syarat yang dipakainya, sebagai halnya Bukhari juga. Para ulama menanggapi syarat Muslim dari memperhatikan jalan yang ditempuh Muslim dalam mentakhrijkan hadis-hadisnya. Muslim meriwayatkan hadis yang sempurna terdapat padanya syarat-syarat shahih, yaitu persambungan sanad dengan nukilan perawi yang adil yang kokoh ingatan dari perawi yang kokoh ingatan pula, sejak dari awal hingga akhir tanpa syudzuzd dan ‘illat.
Perbedaaan Muslim dengan  AL-Bukhari, adalah tentang hal sanad. Sanad yang mu’an’an dihukum muttasil sebagai yang ditegaskan dalam muqaddamah shahihnya. Muslim tidak memerlukan ada keterangan yang membuktikan ada perjumpaan antara rawi dan marwi ‘anhu.
F.      PERBANDINGAN ANTARA SHAHIH BUKHARI DENGAN SHAHIH MUSLIM
Bukhari dan Muslim telah memberikan sepenuh usahanya untuk mnyusun kitab Shahih mereka masing masing secara ilmiah yang memenuhi syarat-syarat ke Shahihan hadis yang disepakati para ulama. Karenanyalah kedua Shahih ini diterima baik oleh masyarakat islam dan ahli ilmupun berpendapat bahwa kedua kitab itu adalah kitab yang paling Shahih sesudah Al-quran.
Syaikhul islam Ibni Taimiyah berkata:
“Tak ada di bawah kolong langit ini sesuatu kitab yang lebih Shahih dari Al-bukhari dan Muslim, sesudah Al-quran.”
Al-imam Ad-Dahlawi berkata:
Adapun Shahih Bukhari dan Muslim telah disepakati ahli hadis bahwa segala hadis yang terdapatdi dalamnya, yang muttasil Lgi Marfu’, adalah Shahih dengan secara qathi dan kedua Shahih itu diterima secara mutawatir dari penyusun-penyusunnya.orang yang meremehkan kedua kitab itu adalahorang yang mubtadi’ yang mngikuti jalan yang bukan jalan yang beriman.”
Sesungguhnya masing-masingShahih ini mempunyai keistimewaan-keistimewaan sendiri.Al-Bukhari membuat judul setiap bab bagi masing-masing kitab, dan sebahagian hadis disebut pula berulang kali pada beberapa tempat lantaran keadaan yang menghendaknya.Dan terkadang-kadang hadis-hadis itu diambil sebahagian-sebahagian ditempatkan dibeberapa tempat untuk menerangkan sesuatu hokum, atau menanbah sesuatu faedah, atau untuk menguatkan kemuttasilan sanad hadis itu.
Muslim tidak berbuat demikian. Tetapi segala sanad hadis dikumpulkan pada suatu tempat dengan dikemukakan sanad-sanadnya dan lafaz-lafaznya yang berbeda-beda.Karena itu mencari hadis dalam Shahih Muslim lebih mudah, karena hadis –hadis suatu bab(masalah) dikumpulkan dalan suatu tempat.
Jumhur ahli ilmu menomorsatukanShahih Bukhari dan menomorduakan Shahih Muslim.Tetapi ulama –ulama maghribi yakni sebagian dari mereka, menomorsatukanShahih Muslim.
Ada yang mengatakan bahwa sebabnya ulama-ulam maghribi, mendahulukan Shahih Muslim atas Shahih Bukhari , adalah karena Muslim mengumpulkan segala jalan hadis di suatu tempat, mudah kita mencarinya dan mengistimbatkan hukum dari padanya.
Sebab yang dikemukakan ini tidaklah memberi pengertian bahwasanya Shahih Muslim lebih Shahih daripada Shahih Al-Bukhari.Jumhur ahli ilmu mendahulukan Shahih Al-Bukhari atas Shahih Muslim, karena banyak benar mengandung faedah dank arena sebab-sebab yang lain.
Sebahagian ulama menginsafi keadaan ini lalu berkata dalam dua bait syair:
“Segolongan orng berbeda pendapat tentang Al-Bukhari dan Muslim dihadapanku.Mereka bertanya:,,Mana diantara dua kitab ini yang anda dahulukan ? maka aku menjawab:,,, Sesungguhnya Al-Bukhari mengatasi Muslim  tentang ke Shahihannya, sebagaimana Muslim mengatasi Bukhari tentang kebagusan susunan tertibnya.”
 Dalam memahami dan menerapkan persyaratan diatas, terdapat sedikit perbedaan antara Imam Muslim dan Imam Bukhari, yaitu dalam masalah ittishal al sanad (persambungan sanad). Menurut Imam Muslim, persambungan sanad cukup dibuktikan melalui hidup semasa (al mu’asharah) antara seorang guru dengan muridnya, atau antara seorang perawi dengan perawi yang menyampaikan riwayat kepadanya. Bukti bahwa keduanya pernah saling bertemu (al liqadh), sebagaimana yang disyaratkan oleh Imam Bukhari, tidaklah dituntut oleh Imam Muslim, karena menurut Imam Muslim seorang perawi yang tsiqat tidak akan mengatakan bahwa dia meriwayatkan sesuatu Hadis dari seorang kecuali dia telah mendengar langsung dari orang tersebut, dan dia tidak akan meriwayatkan sesuatu dari orang yang didengarnya itu kecuali apa yang telah dia dengar.[7]
Imam Muslim dengan kitab Shahih-Nya tersebut dinyatakan oleh para Ulama Hadis sebagai orang kedua, setelah al Bukhari, yang menghimpun Hadis-hadis Shahih saja di dalam kitabnya itu.[8]
G.    Jumlah Hadis dalm Shahih Muslim
Menurut perhitungan M. Fu’ad ‘Abd al Baqi, kitab ini berisi 3.033 hadis. Metode perhitungan tidak didasarkan pada sistem isnad, tapi pada subjek. Seperti kita ketahui, muhatditsin biasa menghitung melalui isnad. Maka, jika metode ini kita terapkan, jumlahnuya mungkin akan meningkat dua kali.[9]















Kesimpulan       
               Dari beberapa lembar makalah kami ini maka kami dapat menyimpulkan sebagai berikut:
Kitab Shahih Muslim adalah kitab hadis nomor dua keshahihannya  menurut jumhur ulama.Dan naman lengkap imam Muslim adalah Abu Al-husain Muslin Ibn Al-hajjaJ Al-Qusyairi Al-Naisaburi. lahir pada tahun 204H.Dan nama asli dari kitab Shahih Muslim adalah Al-Musnad Al-Shahih Al-Mukhtashar min Al-Sunan bi naql Al-‘Adli ‘an Al-‘adl ‘an rasul Allah. Imam Muslim mulai belajar hadis pada umur 15 tahun tepatnya pada tahun 218H.Ia mempunyai karya sebanyak 21 karya, dan yang terkenal adalah kitab Shahih Muslim,ada yang sudah diterbitkan dan ada pula yang belum diterbitkan.Menurut perhitungan M.Fuad ‘abd Al- Baqi kitab Shahih Muslim berisi 3.303 hadis.      
KRITIK DAN SARAN
            Kami mengharapkan kepada kawan –kawan semua, apabila ada keselahan dalam penulisan makalah kami maka kami mohon ma’af. karena kami maklum bahwa sanya kami adalah hamba yang lemah dan tak lepas dari kesalahan.











DAFTAR PUSTAKA   
M.M ‘Azami M.A, 2003. memahami ilmu-ilmu hadis, PT. Lentera Basritama
Nawer yuslem, ulumul hadis, cet.2, Jakarta: PT. Mutiara sumber widya
M. Hasbi ash Shiddiqy, sejarah dan pengantar ilmu Hadis, 1993 Jakarta: PT. Bulan-Bintang
Dr. Munjier suparto, MA Ilmu Hadis, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada
Dr. Muhammad ‘Ajjaz Al-Khatib, 1989, Ushul Hadis.
Dr. Ahmad Umar Hasyim, Qowqid Ushul Hadis, Darul Fikr
Al Suythi, Tadrib al Rawi,  
Ibn al Shalah, ‘ulum al Hadis,  






[1] Azami, memahami ilmu-ilmu hadis (PT. Lentera Basritama, 2003) h. 162-63.
[2]Azami, memahami ilmu-ilmu hadis, h.164-165.  
[3]Azami, studies in Hadith methodology and litarature, h. 95-96
[4]Ibd h. 96. Didalam kitab ‘Ajjaj al kahtib menyebutkan jumlah 3030 Hadis yang terdapat di dalam kitab Shahih Muslim tanpa dimasukkan Hadis-hadis yang disebutkan secara berulang. Namun, apabila dihitung Hadis yang disebutkan secara berulang, maka jumlahnya bisa mencapai sekitar 10.000 Hadis. Lihat ‘Ajjaj al Khatib ushul al Hadis h. 316.       
[5] Al Suythi, Tadrib al Rawi, h. 61; Ibn al Shalah, ‘ulum al Hadis, h. 17.
[6] Ibd Ibn al Shalah, ‘ulum al Hadis, h. 16.

[7] Nawer yuslem, ulumul hadis, (Jakarta: PT. Mutiara sumber widya cet:1), h. 482-483.
[8] Al Suythi, Tadrib al Rawi, h. 49; Ibn al Shalah, ‘ulum al Hadis, h. 14.
[9]Azami, memahami ilmu-ilmu hadis, h.166.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar